(bagian 2 dari 2)
Baca bagian 1 di sini.
Realita dari pendidikan anak ternyata tidak berhenti di jenis pendidikan yang ditawarkan. Saya mulai mengikuti akun Instagram beberapa sekolah dasar di Jogja, dan pelan-pelan muncul kesadaran: ternyata memilih sekolah itu sering kali berarti memilih kelas sosial.
Kok bisa? Bukan cuma soal biaya dan fasilitas. Sekolah mahal biasanya menyediakan area parkir luas untuk wali murid yang datang dengan kendaraan roda empat. Di sisi lain, saya sering melewati sebuah sekolah kecil yang setiap pagi ramai oleh orang tua yang berkerumun menunggui dari balik gerbang. Beda sekali dengan sekolah lain yang sepi, mungkin karena wali muridnya bekerja dan tak bisa menunggu. Perbedaan ini juga tampak dari jenis ekskul. Semakin mahal sekolahnya, semakin “unik-unik” kegiatan tambahannya.
Di titik ini, saya mulai merasa dilema. Saya ingin anak saya terekspos ke pengalaman baru, tapi tidak ingin membesarkannya dalam kemewahan. Saya ingin dia belajar bergaul dengan banyak orang, tapi juga belajar membedakan mana yang perlu dia kejar dan mana yang tidak harus ia miliki. Memilih sekolah bukan sekadar soal kurikulum atau jarak, tapi juga tentang nilai-nilai hidup yang ingin kami jaga.
Atau… mungkin ini gejala hidup di era informasi. Kita tahu terlalu banyak hal. Lalu muncul rasa FOMO atau fear of missing out setiap kali melihat ada orang tua lain yang memilih jalur pendidikan yang “beda dan menarik.” Kita pun auto merasa harus ikut. Padahal, do we really need to experience all? Haruskah semua yang keren itu juga jadi kebutuhan?
Ada teori dari Festinger yang disebut Social Comparison Theory. Manusia cenderung menilai dirinya berdasarkan perbandingan dengan orang lain. Dulu mungkin ini terjadi dalam obrolan antar tetangga. Sekarang, perbandingan itu terjadi setiap hari di media sosial, lewat algoritma yang menyajikan versi terbaik dari hidup orang lain. Saya yakin, di titik tertentu, kita mengambil keputusan memilih sekolah bukan semata berdasarkan kebutuhan anak, tapi karena tekanan sosial dari lingkungan digital kita sendiri.

Kegelisahan saya yang lain adalah soal kompetisi. Kita seolah hidup dalam dunia yang tidak pernah lepas dari seleksi. Untuk masuk sekolah yang dianggap “bagus,” harus berkompetisi. Memang, kita pernah punya kebijakan zonasi di Jogja. Tapi alih-alih memperbaiki akses dan kualitas secara merata, kebijakan ini justru ditarik mundur karena dianggap menurunkan “mutu.” Maka kembali lagi kita ke sistem saringan.
Sebagai orang tua, saya pun terjebak dilema. Tentu saja saya ingin anak saya punya teman yang positif dan lingkungan yang mendukung tumbuh kembangnya. Tapi sering kali, kekhawatiran kita dibungkus dalam asumsi: bahwa anak-anak dari sekolah tertentu pasti lebih baik. Atau sebaliknya, bahwa sekolah yang tidak berprestasi, pasti anak-anaknya tidak jelas. Padahal… prestasi dan budi pekerti itu dua cerita yang sangat berbeda.
Bisa jadi, semua ini bagian dari konsumsi simbolik, seperti yang dikatakan Bourdieu dan Baudrillard. Bahwa memilih sekolah juga bagian dari menunjukkan identitas sosial, seperti saat memilih tas karena brand-nya. Kita ingin dilihat sebagai orang tua yang well-informed, visioner, dan peduli masa depan anak. Kadang itu jadi lebih penting daripada benar-benar memahami kebutuhan anak kita sendiri.
Dan ketika sistem pendidikan memakai mekanisme saringan ini, maka fokus anak pun tersedot ke arah yang sempit: ujian. Banyak waktu belajar mereka habis bukan untuk memahami dunia, tapi untuk latihan soal. Bahkan sampai harus les. Padahal, ada lho negara lain yang tidak menggunakan ujian sebagai mekanisme masuk sekolah. Kita sendiri pernah mencanangkan Kurikulum Merdeka, bahkan menghapus Ujian Nasional. Buat saya, ini langkah yang bagus, tapi juga langkah yang berat. Karena sistem ini menuntut kesiapan luar biasa dari sekolah, guru, dan infrastruktur. Namun, melihat kegagalan kurikulum merdeka, saya menyadarai bahwa reformasi pendidikan itu mahal. Dan negara kita belum siap bayar harga itu.
Sebagai orang tua, saya tidak sedang mencari sistem yang sempurna. Saya cuma ingin anak saya tumbuh sebagai dirinya sendiri, dalam lingkungan yang sehat, penuh rasa ingin tahu, tidak terus-terusan dinilai berdasarkan ranking atau standar.
Tapi saya juga hidup dalam realita. Maka mungkin satu-satunya jalan adalah menavigasi pelan-pelan. Memilih dengan sadar, menyaring informasi yang datang dari media sosial, dan terus menegaskan kembali: apa sih yang penting buat keluarga kami? Apa sih arti pendidikan bagi kami?
Saya tidak selalu yakin arah yang saya pilih ini benar. Tapi saya percaya, mencatat keraguan ini dan membicarakannya, adalah bagian dari perjalanan itu sendiri.

Leave a Reply