(bagian 1 dari 2)
Beberapa waktu terakhir, saya mendadak mengalami pencarian sekolah untuk anak, untuk jenjang taman kanak-kanak. Pengalaman pencarian sekolahnya sih tidak ribet, karena untuk TK, saya dan suami tidak terlalu banyak punya kriteria yang rumit. Yang terpenting adalah jarak yang reasonable dengan rumah atau tempat kerja.
Tapi pengalaman ini membuka mata saya tentang pendidikan anak yang ternyata adalah universe tersendiri. Sekolah dari taman kanak-kanak sampai ke menengah atas di Jogja terutama, ada banyak sekali macamnya—dari sekolah negeri, swasta, swasta agamis, swasta agamis teknologi, swasta agamis internasional, sampai ke homeschooling dan unschooling. Hal ini menggugah pemikiran saya tentang: sebenarnya, sekolah itu untuk apa? Dan apa yang saya/kami harapkan dari sekolah?
Sekolah itu, secara bebas saya artikan sebagai medium penyampaian pendidikan melalui struktur berbasis umur dan perkembangan anak. Tapi sekarang sekolah berkembang tidak hanya untuk itu, ia juga menjadi penyokong kehidupan bermasyarakat. Dalam artian, ketika orang tua bekerja, menggerakkan roda ekonomi, maka anaknya “dititipkan” di sekolah untuk belajar. Sebuah win-win solution.
Di sisi lain, sekolah juga menjadi mekanisme kontrol sebuah bangsa atas kualitas manusianya. Rencana jangka panjang harus didukung dengan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi sesuai. Desain kebijakan pendidikan harus merefleksikan ini. Tak hanya kompetensi, menurutku pendidikan juga meneruskan nilai-nilai dan budaya sebuah masyarakat. Misalnya nih: membangun adab makan, kebiasaan mengantre, kebiasaan cebok di toilet… bahkan yang tiap budaya bisa beda-beda.

Namun ternyata, ada juga pemikiran yang menantang kekakuan sekolah. Setiap anak sejatinya bisa memiliki perjalanan pembelajaran yang berbeda-beda. Ada yang berprogres pelan, ada yang cepat, ada yang bisa digali lebih lanjut, ada yang dicukupkan segitu saja, tidak harus mengikuti alur dari bawah ke atas. Ini yang banyak diterapkan di homeschooling maupun unschooling. Tentu saja ini bukan metode yang banyak dipilih, karena sangat highly personalized, dan membutuhkan komitmen pendidik yang lebih daripada pembelajar di dalam kelas. Sulit juga untuk melakukan quality control untuk pembelajaran seperti ini.
Saya sendiri belum tahu mana yang paling cocok untuk anak saya, tapi sejauh ini saya merasa penting untuk mencatat ulang harapan-harapan kami terhadap pendidikan. Ternyata, bukan cuma soal memilih sekolah, tapi juga tentang menata ulang arah dan nilai yang ingin kami perjuangkan di dalamnya.
(bersambung ke bagian 2!)

Leave a Reply